Tren Flexing, Baik atau Buruk untuk Merek?

Tren Flexing, Baik atau Buruk untuk Merek?

Kebiasaan orang memamerkan sesuatu yang mereka punya sudah terjadi sejak lama. Di era media sosial, pamer diistilahkan dengan flexing. Bagi merek, flexing bisa menjadi penanda, apakah sudah menjadi kebanggaan penggunanya atau belum.  

 

OlehIgnatius Untung

Jam tangan penuh berlian gini harganya cuma Rp 9 miliar? Murah banget!”

Konten-konten semacam itu akhir-akhir semakin menjamur. Beberapa di antaranya semakin kreatif storytelling-nya, “Mas-mas, maaf saya kebanjiran. Sepatu saya jadi rusak, di sini jual sepatu nggak?” Ungkap seorang pria bertelanjang kaki di sebuah video pada seorang pramuniaga toko. Sang pramuniaga toko  menawarkan sepatu dengan harga puluhan juta yang kemudian tanpa pikir panjang disanggupi oleh sang pria kebanjiran itu.

Perilaku semacam ini makin populer dan diberi nama beken sebagai “flexing” yang artinya adalah pamer. Objek flexing beragam, walaupun yang seolah-olah membludak dan menonjol adalah flexing kelas ekstrem yang memamerkan mobil mewah, barang-barang fesyen bernilai puluhan hingga ratusan juta, namun sebenarnya soft flexing sudah terjadi sejak media sosial menjamur. Lihatlah orang-orang, termasuk kita, yang secara sadar atau tak sadar telah juga mempraktikkan flexing ketika membagikan foto makanan hits di timeline media sosial kita. 

Begitu juga ketika kita update story med

0

MarketeersMAX

Anda harus berlangganan lebih dulu untuk mengakses semua konten premium ini. Apabila Anda sudah berlangganan, silakan klik tombol Login.

 
Ignatius Untung

Ignatius Untung

Praktisi Marketing & Behavioral Science